Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

TEMA POKOK AL QUR'AN

Fazlur Rahman

Penerbit : Pustaka Bandung

Cetakan Kedua I996

TUHAN

Al-Qur'an adalah sebuah dokumen untuk ummat manusia. Bahkan kitab ini sendiri menamakan dirinya "petunjuk bagi manusia" (hudal lin-nas)(2:185)dan berbagai julukan lain yang senada di dalam ayat-ayat yang lain. Perkataan Allah, nama Tuhan yang sesungguhnya, lebih dari 2500 kali disebutkan di dalam Al-Qur'an. (tidak terhitung ar-Rabb, Tuhan, dan ar-Rahman, yang pengasih; walaupun menunjukkan kualitas-kualitas, kedua perkataan ini telah memperoleh substansi). Meskipun demikian al-Qur'an bukanlah sebuah risalah mengenai Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Menurut al-Qur'an, eksisitensi Tuhan benar-benar bersifat fungsional -- Dia adalah Pencipta serta Pemelihara alam semesta dan manusia; terutama sekali Dia-lah yang memberikan petunjuk kepada manusia dan yang akan mengadili manusia nanti, baik secara individual maupun secara kolektif, dengan keadilan yang penuh belas-kasih.

Sebuah pertanyaan pertama yang perlu kita utarakan adalah: Mengapa kita harus mempercayai adanya Tuhan? Mengapa kita tidak membiarkan alam beserta berbagai proses dan segala isinya berdiri sendiri tanpa perlu meyakini adanya yang lebih tinggi dari pada alam, yang hanya merumitkan realitas serta memberatkan akal pikiran dan jiwa manusia? Al-Qur'an mengatakan keyakinan kepada yang lebih tinggi daripada alam itu sebagai "keyakinan dan kesadaran terhadap yang gaib" (2:3; 5:94; 21:49; 35:18; 36:11; 50:33; 57:25; 67:12).

Hingga batas-batas tertentu dan karena Wahyu Allah, "yang gaib" ini dapat dilihat oleh manusia-manusia tertentu seperti Nabi Muhammad (misalnya lihat ayat-ayat 81:24;68:47; 52:41; 53:35; 12:102; 11:49), walaupun tidak dapat dipahami dengan sempurna oleh siapapun juga kecuali oleh Tuhan sendiri (misalnya lihat ayat-ayat 72:26; 64:18; 59:22; 49:18; 39:46; 35:38; 32:6; 27:65; 23:92; 18:26; 16:77; 13:9; 12:81; 11:31; 7:188; dan ayat-ayat lainnya). Bagi orang-orang yang suka merenungi eksistensi Tuhan itu dapat mereka pahami, sehingga eksistensi-Nya tidak lagi diyakini sebagai sesuatu yang "irrasional" dan "tidak masuk akal", tetapi berubah menjadi Kebenaran Tertinggi. Perubahan inilah yang merupakan tujuan Al-Qur'an. Jika tujuan ini tercapai, berarti genaplah sudah tujuan Al-Qur'an, jika tidak demikian, nihil sajalah itu namanya.

Untuk mencapai tujuan tersebut manusia harus melakukan berbagai upaya; kalau tidak maka tidak dapat dikatakan bahwa seseorang mencapai tujuan tersebut. Jadi di sini tidak ada keharusan yang luar biasa, tak masuk akal, atau keterlaluan. Manusia harus mendengarkan seruan-seruan Al-Qur'an: "Siapa yang bersikaprendah di hadapan yang gaib dan memiliki hati/akal yang dapat mengetahui (ketika kebenaran tiba)" (50:33). Ayat-ayat senada ini banyak sekali kita jumpai di dalam Al-Qur'an, misalnya ayat yang mengatakan: "Seolah-olah mereka diseru dari tempat yang jauh" (41:44). Dengan ayat ini tidaklah berarti bahwa Tuhan sedemikian jauhnya sehingga seruan-Nya tidak dapat terdengar, karena di dalam Al-Qur'an Dia juga berkata:"Kami ciptakan manusia, Kami mengetahui bisikan-bisikan buruk di dalam hatinya, dan Kami lebih hampir kepadanya dari pada urat darah di lehernya" (50:16).

Tuhan itu memang dekat, namun betapa pula jauhnya! Yang menjadi masalah di sini bukanlah bagaimana membuat manusia beriman dengan mengemukakan bukti-bukti "theologis" yang pelik dan panjang lebar mengenai eksistensi Tuhan, tetapi bagaimana membuatnya beriman dengan mengalihkan perhatiannya kepada berbagai fakta yang jelas dan mengubah fakta-fakta ini menjadi hal-hal yang mengingatkan manusia kepada eksistensi Tuhan. Oleh karena itulah Al-Qur'an berulangkali menamakan dirinya (dan Nabi Muhammad) sebagai "sebuah peringatan" atau "yang memperingatkan".

Hal-hal terpenting di dalam amanah maha berat untuk "mengingatkan" manusia secara tak henti-henti ini adalah:

  1.  
    1. Bahwa segala sesuatu selain dari pada Tuhan, termasuk keseluruhan alam semesta (yang memiliki aspek "metafisis" dan "moral"), tergantung kepada Tuhan;
    2. Bahwa Tuhan yang Maha Besar dan Perkasa pada dasarnya adalah Tuhan yang Maha Pengasih; dan
    3. Bahwa aspek-aspek ini sudah tentu mensyaratkan sebuah hubungan yang tepat di antara Tuhan dengan manusia -- hubungan diantara yang diper-Tuhankan dengan hamba-Nya -- dan sebagai konsekuensinya sebuah hubungan yang tepat di antara manusia dengan manusia. Sudah sewajarnya jika hubungan-hubungan normatif ini mensyaratkan adanya hukum terhadap manusia sebagai individu dan di dalam eksistensi kolektif atau sosialnya. Setelah memahami ketiga hal penting ini barulah kita dapat memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai sentraliotas Tuhan di dalam keseluruhan sistem eksistensi, karena yang dituju oleh Al-Qur'an bukanlah Tuhan tetapi manusia dan tingkah lakunya.

Karena tidak adanya ultimasi rasional dan moral ini, timbullah masalah yang penting: Dari manakah alam semesta memperoleh eksistensinya? Untk dapat menjawabnya, kita terlebih dulu harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Mengapakah harus ada alam beserta kelimpahan-kelimpahan yang terkandung didalamnya? Mengapakah yang ada bukan ketiadaan dan kehampaan total -- yang lebih mudah dan lebih "natural" diantara kedua alternatif ini? Melalui Hegel orang-orang Yunani mengatakan bahwa "tidak ada" adalah perkataan yang hampa dan tidak memiliki arti yang ril karena: "tidak ada hal yang tidak ada dan kita tidak dapat membatangkan hal yang tidak ada itu". Di sini timbul pertanyaan: Mengapakah kita tidak dapat membayangkan hal yang tidak ada itu? Memang secara teoritis adalah mungkin jika alam semesta ini tidak ada sama sekali. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa karena "diberikan" kepada mereka maka alam semesta adalah "perlu" bagi mereka; sama halnya dengan permainan yang karena diberikan kepada seorang anak menjadi "perlu" bagi si anak tersebut.

Inilah arti yang sesungguhnya dari ketergantungan. Sesuatu yang tergantung tidak dapat dibayangkan tanpa adanya tempat ia bergantung. Tetapi kita dapat sedemikian tenggelam di dalam sesuatu yang tergantung sehingga lupa tempatnya bergantung. Sekali lagi: sama halnya dengan seorang kanak-kanak yang sedemikian asyik dengan permainannya sehingga ia tidak mengetahui hal-hal yang lain. Tetapi Al-Qur'an menyatakan bahwa begitu engkau merenungi dari mana dan ke mana alam semesta ini, maka engkau pasti akan "menemukan Tuhan". Pernyataan ini bukan merupakan "bukti" terhadap eksistensi Tuhan, karena menurut Al-Qur'an : Jika engkau tidak "menemui" Tuhan maka engkau tidak akan dapat membuktikan eksistensi-Nya; Alqur'an mengatakan: "Satu-satunya jalan yang benar adalah jalan yang menuju kepada Allah -- (semua) jalan yang lain adalajh menyesatkan" (16:9). Karena alasan-alasan yang akan kami kemukakan nanti, maka "menemukan" bukan sebuah perkataan yang hampa; perkataan ini meminta sebuah revaluasi total terhadap urutan realitas yang prima dan menaruh setiap sesuatu ke dalam perspektif baru dengan arti-arti yang baru. Konsekuensi pertama dari penemuan itu adalah bahwa Tuhan tidak dapat dipandang sebagai sebuah eksistensi diantara eksistensi-eksistensi lainnya. Di dalam alam metafisis tidak ada pemilikan bersama secara adil dan demokratis di antara Yang Awal, Yang Mencipta, dan Yang Harus Ada dengan yang dipinjamkan, yang diciptakan, dan yang tergantung. Pemilikan bersama yang seperti itu hanya ada di dalam kategori yang kedua. Kutukan Al-Qur'an terhadap Syirik ("mempersekutukkan Tuhan") berakar di dalam alam metafisis ini dan -- seperti yang akan kita saksikan -- memasuki bidang moral.

Sementara pembicaraan mengenai kekuasaan dan kebesaran Tuah senantiasa merupakan tautologi (pengulangan yang tidak menambah kejelasan) -- karena kekuasaan dan kebesaran-Nya adalah arti yang terutama dari sifat-Nya yang serba mencakup -- maka alasan mengapa kekuasaan dan kebesaran-Nya itu sedemikian ditandaskan di dalam Al-Qur'an, adalah untuk menunjukkan betapa berbahayanya kebodohan manusia yang mempersamakan dan mengindentikkan hal-hal yang terhingga dengan Dia Yang Tak Terhingga, atau yang menempatkan tuhan-tuhan atau kekuatan-kekuatan lain di antara Dia denagn ciptaan-Nya, sedang Dia mempunyai hubungan yang langsung dan erat dengan ciptan-Nya itu. Tetapi yang lebih penting bagi kita adalah bahwa Tuhan menunjukkan kebesaran, kekuasaan, dan keserbamencakupan-Nya terutama sekali melalui keseluruhan manifestasi kepengasihan-Nya -- melalui eksistensi, penciptaan, pemeliharaan terhadap yang diciptakan, pemberian bimbingan kepada yang diciptakan itu, dan terakhir sekali, melalui "kembalinya" kepada manusia yang setelah tersesat dengan setulus hati ingin kembali kepada sumber eksistensi, kehidupan, dan petunjuk itu.